Blog
Oct 12

Telkomsigma Tak Gentar dengan Perusahaan Data Center Asing

Marketing.co.idBerita Digital & Techno | Masuknya perusahaan Data Center (Pusat Data) asing ke Indonesia tidak membuat Telkomsigma gentar. Seperti diberitakan beberapa media, Microsoft kabarnya akan menggelontorkan dana hingga $1 miliar untuk membangun Pusat Data di Indonesia. Amazon menyiapkan $2,5 miliar (membangun tiga pusat data akan beroperasi awal 2022) dan Google dalam waktu dekat akan merilis pusat data di Indonesia, setelah diumumkan pada 2018. Sementara Alibaba Cloud sudah lebih dahulu mendirikan pusat data pada 2018.

Telkomsigma adalah anak perusahaan Telkom yang bergelut di bisnis Data Center. Sihmirmo Adi, CEO Telkomsigma mengatakan, masuknya pemain asing di bisnis Data Center tidak bisa dipisahkan dari eksosistem seperti network. “Kita masih percaya pemain asing masuk akan butuh network, jadi pemain asing akan menghadapi challenge di network,” tutur Sihmirmo yang ditemui usai menerima penghargaan Corporate Image Award 2020 di kategori Data Center, di kantornya, Kamis, 8 Oktober 2020.

Selain itu, sebagai anak perusahaan BUMN, Telkomsigma memiliki privilege untuk menggarap perusahaan-perusahaan BUMN. Justru persaingan datang dari sesama pemain lokal di segmen korporasi swasta. Sihmirmo mengatakan, Djarum dan Sinar Mas adalah dua perusahaan yang sudah masuk industri Data Center.

“Bagus kalau pemainnya banyak, akan memacu kami agar lebih kompetitif. Selain itu, karena bisnis ini sangat network sensitive, kami tidak takut pemain asing, karena begitu pemain asing masuk dan melihat network, akan susah bersaing secara harga,” imbuh dia.

Sihmirmo juga sempat menyinggung istilah Tier dalam industri Data Center. Istilah ini mengacu kepada tingkat kapabilitas pelayanan yang dapat diberikan suatu perusahaan Data Center. Analoginya seperti di industri perhotelan kita mengenal istilah hotel bintang 3, bintang 4, atau bintang 5. “Makin tinggi Tier bukan makin laku, kenyataannya Tier makin tinggi makin sulit dijual karena makin mahal,” ungkapnya.

Kebutuhan bisnis di Indonesia berada di level Tier 3 atau Tier 3 plus. Yang terpentingnya menurutnya yakni kemampuan UPS (Uninterruptible Power Supply atau Uninterruptible Power Source). Jika terjadi insiden listrik mati, UPS Telkomsigma mampu mengatasinya lebih dari 10 menit. Sementara genset akan berfungsi dalam hitungan kurang dari 20 detik. “Jadi ini sebenarnya sudah terasa Tier 4. Semua bank sebenarnya sudah cukup dengan Tier 3, termasuk bank asing,” tandasnya.

Karena segmen korporasi terkontraksi imbas dari krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19, maka  ke depan segmen immersive technology menjadi seksi. “Menurut Gartner immersive technology yakni mengombinasikan digital dengan IT service dalam konteks digital,” kata Sihmirmo.

“IT Service dalam pengertian B2B, tahun depan akan banyak terkontraksi karena market sedang going down. Hanya perusahaan – perusahaan yang sudah mempersiapkan diri untuk ke B2B2C atau B2C yang akan unggul, B2C pun yang arahnya ke lifestyle dan digital service,” katanya.